Ngabuburit di Masjid An-Nur, Masjid Tertua dan Terbesar di Kota Banjarnegara

 

Ngabuburit di Masjid An-Nur, Masjid Tertua dan Terbesar di Kota Banjarnegara

 

SEPUTARBANJAR.COM,BANJARNEGARA- Menunggu waktu berbuka puasa (Ngabuburit)  merupakan salah satu kebiasaan umum masyarakat  Muslim di Indonesia untuk menunggu waktu berbuka puasa.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, ngabuburit kini menjadi fenomena di Indonesia saat bulan ramadhan.

Masjid An-Nur terlihat sore hari dari tengah Alun-alun kota Banjarnegara. (foto/m.anhar)

Bagi anda yang melaksanakan ibadah puasa ramadhan, tentunya banyak pilihan tempat untuk ngabuburit buka puasa.

Namun agar selaras dengan ibadah puasa yang sedang dijalani akan lebih baik mencari tempat ngabuburit yang tidak hanya untuk berbuka puasa tetapi juga bisa melaksanakan ibadah setelah selesai berbuka.

Di Kabupaten Banjarnegara ada beberapa destinasi wisata religi yang bisa menjadi pilihan untuk dikunjungi sembari ngabuburit tiba, salah satunya adalah masjid An-Nur yang terletak di jalan Ahmad Dahlan  Kauman atau tepatnya berada di sisi barat alun alun Banjarnegara, berseberangan dengan kantor Bupati Banjarnegara yang berada di sisi timur alun alun.

Bagi masyarakat di Banjarnegara  pasti sudah tidak asing dengan masjid megah yang berada di alun-alun kota Banjarnegara ini.  Posisinya yang berada di pusat kota menjadikan masjid ini tak hanya sebagai masjid tertua dan terbesar namun juga sebagai masjid utama di Kabupaten Banjarnegara.

Lokasinya yang  berada di tengah kota Banjarnegara juga sangat tepat untuk berwisata religi. Jadi, selain menunggu waktu maghrib, Anda juga bisa sekalian belajar tentang sejarah masjid An-Nur ataupun sekedar melaksanakan amalan ibadah lainnya, misalnya mengaji atau mendengarkan pengajian menjaleng berbuka puasa di masjid tersebut.

Suasana di depan masjid An-Nur sore hari menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan 1440 H (foto/m.anhar)

Sejarah Masjid An-Nur

Sejarah berdirinya Masjid An-Nur sendiri dimulai ketika umat Islam terutama yang bermukin di Kampung Kauman Banjarnegara sekitar tahun pada tahun 1865 mulai mendirikan masjid tersebut.

Fahmi Hisyam ketua takmir masjid An-Annur menjelaskan, semula masjid An-Nur merupakan masjid  kecil dengan ukuran 10 x 15 Meter lalu diperbesar menjadi 15 x 20 meter diatas tanah wakaf milik keluarga H. Hasan Mukmin. Semula  masjid tersebut terdiri dari ruang utama disebelah barat dan ruang serambi disebelah timurnya.

Awalnya masyarakat menyebut masjid ini dengan sebutan masjid besar (Mesjid gede) karena tergolong paling besar dibanding masjid-masjid lainnya dan berada dipusat kota. Dahulu masjid besar Kauman dilengkapi dengan kolam / renang mandi dan tempat wudlu yang sering di sebut dengan kulah gedhe yang dibagian barat laut masjid.

Masjid An-Nur sebelum di pugar dan dibangun pada tahun 2002 lalu.(foto/istimewa)

Kulah gedhe ini digunakan pula sebagai tempat mandi masyarakat sekitar yang airnya berasal dari saluran kota ketika masih jernih. Kolam mandi ini kemudian tidak dipakai lagi karena saluran air di kota sudah kotor, dicemari najis dan tidak higienis lagi.

Kemudian seiring dengan perkembangan dan perubahan istilah pada masjid, maka pemerintah dan masyarakat atas ijin pengurus takmir memberi nama masjid itu dengan sebutan Masjid Agung An-Nuur, dinisbatkan pada nama salah satu keluarga wakaf yang banyak berjasa pada pengelolaan masjid tersebut yakni H. Muhammad Nuur ( Alm ).

Setelah H. Muhammad Nuur wafat kepemimpinan masjid ditangani keluarga beliau antara lain antara lain  Abdul Majid, Abdul Hamid, H. Muhammad Ya’qub ( 1950-1962 ), H. Muhammad Humam ( 1962-1978 ), kemudian H. Abdul Ghofur bin H. Ihsan ( 1978 – 1987 ) dan kemudian H. Rachmat sukantio bin H. Ihsan sampai tahun 2000 an sekarang dipimpin oleh H. M Fahmi Hisyam.

Banyak kegiatan yang dilakukan untuk memakmurkan masjid tersebut yang sudah rutin dilaksanakan sejak zaman dahulu yaitu pelayanan ibadah shalat, pembagian zakat pada bulan Ramadhan, pengajian anak-anak, tadarus Al-Qur’an orang dewasa, pengajian hari besar Islam dan lain-lain.

Pada sekitar tahun 1980 – 1983 masjid besar dipugar dan diperluas, ditambah serambi utama dan ruang-ruang kantor. Selanjutnya pada tahun 2007 – 2010 diperluas lagi dengan serambi depan dan halaman masjid.

Masjid Agung Annur Banjarnegara ini tampil mentereng dengan perpaduan dua gaya arsitektur; Arsitektur masjid modern dengan bangunan beton berkubah setengah bundar ditambah dengan satu bangunan menara terpisah dari bangunan masjid, sementara bangunan utamanya masih mempertahankan bentuk bangunan masjid tradisional khas Indonesia dengan atap limas bersusun tiga.

“Maksud dan tujuan didirikannya masjid ini adalah untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sekitar agar dapat meningkatkan pengalaman islam berdasarkan Al-qur’an dan As-sunah serta mengusahakan kesejahteraan lahir batin agar terwujud masyarakat islam yang sebenar-benarnya,” Kata Fahmi. (seputarbanjar.com/m.anhar)

 

 

Berita lainnya