Ini Cara Warga Banjarnegara Meminta Hujan,  Hingga Berdarah-darah..

Ini Cara Warga Banjarnegara Meminta Hujan,  Hingga Berdarah-darah

 

BANJARNEGARA – Musim kemarau yang terjadi di Banjarnegara membuat sebagian besar warga di wilayah yang dilanda kekeringan melakukan berbagai ritual dan doa bersama untuk meminta hujan.

Di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, ritual tersebut dilakukan dalam  Tradisi Unjungan. Tradisi ini merupakan ritual tradisional untuk meminta hujan yang sudah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka selama ratusan tahun silam

Acara ritual tradisional ini dilakukan dengan cara adu pukul pada bagian kaki yang dilakukan oleh orang dewasa dengan menggunakan sebilah rotan sebagai alat untuk memukul.

Minggu (6/10) Kemarin tradisi ujungan kembali dilakukan untuk memohon agar hujan segera turun. Di Desa Gumelem, Tradisi Ujungan telah dilakukan secara turun temurun serta biasa diselenggarakan pada saat musim kemarau panjang.

Pemain Ujungan beradu pukul dengan rotan di lapangan desa Gumelem Kulon Kecamatan Susukan, Minggu (6/10). Dalam tradisi ini, tak jarang para pemainnya terluka dan berdarah karena pukulan tongkat rotan dari pemain lawa. Melalui tradisi ini diharapkan hujan segera turun.(foto/m.anhar).

Meskipun digelar setiap tahun, namun antusiasme warga untuk menyaksikan even ini tidak luntur. Setiap di gelar ujungan warga sampai berdesak-desakan untuk menyaksikan helatan yang diselenggarakan di area persawahan Dusun Ketandan, Desa Gumelem.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara Dwi Suryanto mengatakan Ujungan merupakan satu dari 69 even yang masuk dalam kalender even pariwisata di Banjarnegara.

Dwi mengatakan Ujungan digelar untuk memohon turunnya hujan. “Kemarau yang cukup panjang ini membuat sebagain wilayah dilanda kekeringan termasuk di kecamatan Susukan dan sekitarnya . untuk  itu, warga menggelar Ujungan untuk memohon kepada Tuhan agar hujan segera turun,” katanya..

Dalam tradisi ini, dua pemain Ujungan saling gebuk kaki lawan dengan rotan. Karena kerasnya pukulan, tak jarang pemain sampai terluka dan berdarah.

 Tokoh masyarakat Desa Gumelem Kulon Arief Machbub mengatakan even ini terselenggara atas kerja sama warga Desa Gumelem Wetan dengan Gumelem Kulon.

Dia berharap helatan ini semakin tahun diperbaiki sehingga semakin menarik masyarakat luas. Dalam Ujungan ini, pertandingan dibatasi hanya 11 pasang pemain yang turun ke arena. Para pemain datang dari berbagai wilayah dan tidak saling kenal.

“Pesertanya para jawara dari berbagai wilayah. Selain dari Kecamatan Susukan, juga dari luar kabupaten seperti Banyumas dan Purbalingga,” jelasnya.

Pj Kades Gumelem Kulon Sudarso mengatakan even Ujungan semakin tahun semakin menarik perhatian mayarakat. Buktinya, masyarakat yang datang untuk menyaksikan bukannya semakin turun, namun semakin meningkat.

Diharapkan, kedepan even ini bisa dijual sebagai paket wisata. Sehingga even budaya ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Untuk tahun ini gelaran Festival Ujungan dilaksanakan tanggal 4 sampai 6 Oktober 2019.  Selain acara inti Ujungan, juga ditampilkan beberapa seni hiburan serta budaya seperti seni kuda lumping, kenthongan dan lainnya.(seputarbanjar.com/manhar)

 

 

 

 

Berita lainnya