Warga Banjarnegara  Gelar  Ritual Cowongan, Tradisi Langka Meminta Hujan, Ini Syaratnya..

Warga Banjarnegara  Gelar  Ritual Cowongan, Tradisi Langka Meminta Hujan, Ini Syaratnya..

 

SEPUTARBANJAR.COM.BANJARNEGARA- Berbagai ritual di lakukan warga untuk meminta agar hujan segera turun. Di Desa Gentansari Kecamatan Pegedongan Banjarnegara , warga di Dusun Semayun menggelar ritual unik yaitu ritual cowongan, sebuah tradisi ritual yang dimaksudkan untuk meminta hujan.

“Tradisi ini untuk meminta hujan, kami berharap kemarau pajang segera berakhir dengan hujan,” kata sesepuh Desa Gentansari Ismoyo Rabu (30/10/2019) malam.

Ismoyo menjelaskan, cowongan merupakan ritual mengarak boneka Cowongan. Boneka ini terbuat dari batok kelapa dan sebagai pegangannya dari bambu.

Batok dihias agar mirip dengan wajah manusia kemuadian batork tersebut  dibalut dengan rangkaian bunga kamboja untuk membentuk rambut, tangan, badan dan kepala boneka.

Dalam tradisi ini, ada dua perempuan yang bertugas membawa gayung dari batok kelapa berkeliling desa. Batok kelapa tersebut dibalut rapat dengan bunga kemboja.

“Boneka cowongan kami arak keliling desa untuk mencari sumber air, tujuannya yaitu agar segera turun hujan,” lanjutnya.

Gayung dengan batok kelapa tersebut  baru berhenti saat menemukan air yang telah disediakan sebelumnya. Uniknya, saat ritual, warga justru lari menghindari cowongan tersebut.

“mereka masih percaya mitos kalau terkena cowongan tersebut akan kurang baik,” tambahnya.

Ada dua cowongan yang dibawa keliling desa untuk mencari sumber air. Hanya, hal ini dilakukan bergantian. Sedangkan satu cowongan dibawa perempuan berusia lanjut.

Boneka cowongan diarak keliling dusun untuk mencari sumber air, sebagain warga menghindar, karena sebagain masih percaya   mitos jika terkena cowongan akan membawa sial.(foto/istimewa)

“Kenapa yang membawa itu perempuan berusia lanjut, karena yang dianggap sudah suci atau sudah tidak menstruasi. Jadi yang sudah lanjut usia atau anak kecil sekalian,” jelasnya.

Tradisi cowongan  tidak dilakukan setiap tahun, hanya kalau terjadi kemarau panjang hingga musim tanam. Terakhir ritual cowongan kita lakukan pada 2014. Dan dilakukan tujuh malam berturut-turut,dan hari ini merupakan hari yang ketiga,” lanjutnya.

Terpisah Kepala Desa Gentansari  Supriyono mengatakan tradisi ini sempat vakum selama 24 tahun. Namun kembali dihidupan pada tahun 2014. Tradisi cowongan ini mungkin hanya ada satu-satunya di Dusun Semayun.  Di daerah lain ada Cowongan, tapi beda dengan yang di Semayun,” katanya. (seputarbanjar.com/m.anhar)

 

 

Berita lainnya